Sunday, 22/7/2018 | 8:00 UTC+0
Ascarya Journalistic Club

Informasi Magang Program Studi Manajemen

Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UKSW mungkin sudah tidak asing lagi dengan matakuliah magang karena sudah menjadi matakuliah pilihan yang disarankan oleh prodi sebelum adanya peralihan kurikulum 2016.

Matakuliah magang Prodi Manajemen dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Magang Manajemen dan Magang Usaha. Magang Manajemen dimaksudkan untuk mahasiswa yang minat atau konsentrasinya di luar kewirausahaan sedangkan Magang Usaha khusus konsentrasi kewirausahaan.

Koordinator Magang Manajemen ditangani oleh Roos Kities Andadari sedangkan Koordinator Magang Usaha oleh Sri Sulandjari. Roos mengatakan bahwa pembedaan kedua koordinator dimaksudkan pemahaman dari masing-masing magang. Jika konsentrasi kewirausahaan, bertujuan menghasilkan wirausaha sehingga mahasiswa diharapkan bisa memahami bagaimana usaha yang terjadi pada usaha kecil atau small enterprice dan pelibatannya tekait hal tersebut. Sedangkan, Magang Manajemen difokuskan pada konsentrasi pemasaran, keuangan dan SDM yang nantinya diharapkan menghasilkan mahasiswa yang lebih profesional.

Fokus dalam pembahasan magang Prodi Manajemen kali ini, yaitu Magang Manajemen. Namun, terkait Magang Usaha mekanisme kurang lebih sama dengan Magang Manajemen, hanya saja kegiatannya yang berbeda.

Progdi Manajemen menyediakan matakuliah alternatif lain jika mahasiswa tidak tertarik untuk mengambil magang. “Sebenarnya kita punya banyak pilihan ya, jadi seperti Kuliah Kerja Usaha (KUKU) yang mana kita kerjasama dengan PT. Sosro, kemudian juga ada Business plan, E-business, itu sebenarnya alternatif-alternatif yang ditawarkan untuk mereka yang tidak memilih magang,” kata Roos.

Jika melihat buku kurikulum FEB, khusus Prodi Manajemen, didalamnya masih banyak altenatif lain. Namun pihak prodi sangat mengharapkan mahasiswa bisa memanfaatkan kegiatan magang khususnya Magang Manajemen. Menurut Roos sendiri akan banyak kerugian jika mahasiswa tidak memanfaatkan adanya matakuliah Magang Manajemen. Di mana mahasiswa sering kali atau cenderung menghindar (tidak ingin mengambil matakuliah yang susah salah satunya magang-red). Sehingga dari dosen pengurus magang sebenarnya ingin mengusulkan agar matakuliah magang diwajibkan terutama Magang Manajemen bagi yang konsentrasinya bukan kewirausahaan. Sebab manfaat yang akan diperoleh jauh lebih banyak.

Contoh manfaatnya, dikarenakan magang dilaksanakan di perusahaan, maka mahasiswa akan mempunyai peluang untuk memperkenalkan kemampuan dan pengetahuan mereka, serta belajar mengenai praktek langsung di perusahaan. Selain itu, waktu pemanfaatan magang manajemen itu dua sampai tiga bulan namun akan dioptimalkan tiga bulan. Jadi, mahasiswa bisa belajar seperti membangun jejaring, bersikap saat bertemu dengan klien dari perusahaan dan sebagainya.

Persyaratan Magang Manajemen berdasarkan buku kurikulum 2016 dikatakan, mahasiswa telah memenuhi 108 sks diperoleh. Kemudian, Roos menambahkan, ”Jika mengacu pada kurikulum, paling tidak mahasiswa sudah tahun ketiga tapi yang kita harapkan mahasiswa sudah mengambil sebagian besar matakuliah khususnya mata kuliah Manajemen Stratejik karena jika di mata kuliah seperti keuangan, pemasaran, SDM dan operasi itu kan sebenarnya pengetahuan umum yang menjadi dasar seseorang untuk memahami bisnis,” tambahnya.

Dalam mencari perusahaan sebagai tempat magang, prodi mendorong mahasiswa untuk mencari sendiri, karena ini adalah proses awal mahasiswa secara psikologis mulai menyiapkan diri (sebagai pengalaman jika nanti mahasiswa mencari pekerjaan-red). Prodi akan memfasifitasi mahasiswa dengan membuatkan surat atau proposal singkat mengenai tujuan magang tersebut.

“Magang Manajemen itu kan 6 sks dan biasanya kita akan mencari perusahaan yang bersedia menerima yang bersangkutan untuk magang di situ (hanya sebatas memfasilitasi dalam menyuguhkan beberapa informasi jika ada perusahaan yang kiranya bisa menerima mahasiswa untuk magang ditempat yang bersangkutan selebihnya itu dari pilihan mahasiswa sendiri-red), tapi memang yang kita harapkan sesuai dengan konsentrasinya, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu bisa pas ya, tapi tidak apa-apa karena ketika nanti mahasiswa luluss ujian itu belum tentu diterima melamar di suatu perusahaan yang sesuai dengan konsentrasinya,” terang Roos.

Roos juga berharap agar mahasiswa bisa mendapatkan tempat magang di mana mereka bisa belajar di sana dan ketika magang selesai mahasiswa dapat memperoleh manfaat secara nyata yang tadinya hanya diperoleh secara teori melalui kuliah. Contohnya jika mengikuti meeting dengan klien perusahaan, negosiasi dalam berbagai aspek, serta mampu mengolah data dengan program-program tertentu.

Alur dalam mempersiapkan magang bagi mahasiswa manajemen adalah pertama, harus melakukan konsultasi dengan koordinator magang baik itu Magang Manajemen ataupun Magang Usaha.

“Dari prodi menyarankan untuk ketemu saya dulu, maksudnya untuk mengkomunikasikan kira-kira magang ditempat ini baik atau tidak, boleh atau tidak, karena kami tidak menyarankan mahasiswa magang di lembaga-lembaga pemerintah. Tidak menyarankan bukan berarti melarang. Kenapa tidak disarankan karena sering pemanfaatannya tidak menjadi optimal seperti inisiatif dari mahasiswa itu kurang dimanfaatkan,” ungkap Roos.

Setelah konsultasi dan mendapat persetujuan, pihak prodi akan menyiapkan proposal atau surat untuk bisa dikirimkan atau dibawa oleh mahasiswa ke perusahaan tempat magang. Surat tersebut dapat diproses dan diambil di Kantor Sekertaris Prodi Manajemen.

“Setelah mahasiswa datang ke perusahaan dan mendapat konfirmasi kesediaannya perusahaan untuk menerima, saya selalu minta dia memberikan informasi ke saya karena nanti saya bisa menyiapkan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sesuai dengan bidang yang dia tangani di perusahaan. Kemudian juga saya minta mahasiswa memberikan informasi tentang mentornya siapa (dari perusahaan tempat magang –red), supaya jika terjadi sesuatu ada komunikasi DPL dengan mentornya,” terang Roos.

Prodi sebenarnya juga bertujuan mendorong DPL untuk melakukan kunjungan ke perusahaan. Namun tidak semua DPL bisa melakukan kunjungan karena berbagai kendala dan juga tidak semua perusahaan merasa siap untuk dikunjungi. Sehingga kegiatan supervisi dari prodi tidak dipaksakan. Namun yang terpenting, DPLberkomunikasi dengan mentor mahasiswa terkait perkembangan dari pelaksanaan magang.

Output dari Magang Manajemen adalah membuat laporan akhir magang yang panduannya sudah disiapkan. Laporan tersebut digunakan untuk menilai apakah selama ini teori yang diperoleh mahasiswa bisa membantu dalam melakukan pekerjaan di perusahaan. Selain itu, juga terdapat laporan mingguan dari mahasiswa dengan maksud memudahkan DPL mengetahui kegiatan yang dikerjakan oleh mahasiswa.

Untuk penilaian, selain laporan mingguan dan laporan akhir magang, perusahaan juga ikut menilai. “Mentor diperusahaan akan memberikan evaluasi misalkan tentang berbagai kemampuan, tanggung jawab, disiplin mahasiswa dan sebagainya. Selain itu aspek yang berkaitan dengan sikap dan keterampilan mahasiswa, serta aspek manajemennya. Kemudian dari penilaian tersebut nanti DPL yang akan menentukan nilai akhirnya,” ungkap Roos.

Koordinator Magang Manajemen berpesan, “Manfaatkanlah magang sehingga kamu dapat mengetahui tuntutan dari pekerjaan itu seperti apa!”tutup Roos diakhir wawancaranya dengan Ascarya.

Penulis : Theresia Gracia Agatha, Mahasiswa jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomika dan Bisnis, angkatan 2015, Pemimpin Redaksi Ascarya Journalictic Club 2017-2018.

Penyunting : Dini Nurul Hudha

— The end —

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan via Surel

Masukkan alamat surel Anda untuk mendapatkan kabar terbaru dari Ascarya dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

KONTAK ASCARYA

Email: ascarya.feb@student.uksw.edu

Phone: 0858-4868-2470 (Armita)

Address: Jalan Diponegoro No. 52-60 Salatiga