Sunday, 22/7/2018 | 8:06 UTC+0
Ascarya Journalistic Club

Serunya Eagle Bagi-bagi Sepatu

Jumat (24/11/2017) Universitas Kristen Satya Wacana bekerjasama dengan Eagle untuk mengadakan Talk Show “Find Your Passion” di Balairung UKSW Salatiga. Acara ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis UKSW ke-61 dan salah satu kegiatan dari Eagle yaitu Goes To University yang baru pertama kali diadakan. Tanpa memungut biaya pendaftaran, Eagle memberikan goodie bag berisi tumblr Eagle serta doorprize berupa 100 pasang sepatu Eagle.

Talk Show yang berlangsung selama tiga setengah jam ini dipandu oleh Giovania Kartika atau yang biasa dipanggil Cik Nia, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW dan juga Runner Up Duta Wisata Salatiga 2017. Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars SatyaWacana serta acara inti yang diisi oleh empat bintang tamu, yaitu OK Kim, selaku CEO Eagle yang berasal dari Korea; Luluk Hardiyanto, yang merupakan peringkat 1 dunia bulu tangkis ganda putra 2004; Suparmin, sang penakluk Rinjani 100 km dan Rico Ceper, seorang selebritis yang juga penyiar radio.

Sesuai dengan tema, inti dari acara ini adalah membahas tentang bagaimana cara mencari passion, menemukan, menjalani dan mempertahankannya yang dibagi kedalam 2 sesi. Sesi pertama diisi oleh OK Kim dan Luluk Hardiyanto, yang menjelaskan bagaimana sepak terjang mereka dalam menemukan dan menjalani passion masing-masing hingga berada pada posisi saat ini.

“Pertama saya benar-benar ingin mengatasi kemiskinan, kedua saya benar-benar memiliki hasrat untuk mempersiapkan masa depan saya!”

Begitulah jawaban singkat dari Ok Kim yang dipanggil Mr. Kim selama Talk Show berlangsung, ketika ditanya Cik Nia mengenai alasan memilih keluar dari Korea. Kemudian Mr. Kim menceritakan bahwa ketika berusia sekitar 6 atau 7 tahun, kondisi dari keluarganya begitu miskin karena adanya perang antara Korea Selatan dan Korea Utara. Mr. Kim hanya bisa makan ubi, kentang, kacang merah dan jagung,  nasi hanya bisa dirasakannya ketika hari ulang tahunnya saja. Kejadian inilah yang membuatnya bersumpah akan mengatasi kemiskinan dengan belajar bersungguh-sungguh dan terus bersemangat.

Mr. Kim datang ke Indonesia tahun 1992 dan sejak itu pernah bekerja diberbagai bidang hingga akhirnya memilih untuk bekerja di Eagle sampai saat ini. Melakukan pekerjaan diberbagai bidang membuatnya belajar dan mempunyai banyak pengalaman. Diakhir sesi Ok Kim mengutarakan, “Ketika kalian masih muda kalian harus memiliki sebuah keinginan, semangat dan meningkatkan kemampuan diri untuk masa depan,” tegasnya.

 

Menemukan passion dan mempertahankannya.

Luluk Hardiyanto membuka pembiacarannya dengan memberikan jargon “Eagle! Majuterus!! UKSW! LuarBiasa!! Olahraga! Jaya!!”. Kemudian, pria yang akrab disapa Bung Luluk ini mulai bercerita mengenai awal mula mengenal bulu tangkis. Kedua orang tuanya sangat menyukai olahraga yang satu ini, sehingga Bung Luluk mulai belajar bulu tangkis sejak  berada dibangku Sekolah Dasar dan terus menekuninya hingga akhirnya bisa berprestasi dicabang olahraga bulu tangkis. Ketika mengalami kegagalan, Bung Luluk meyakinkan dirinya sendiri, “Saya membesarkan hati saya, gapapa nanti ada kesempatan lagi,” tuturnya.

Kedua orang tua Bung Luluk adalah seorang guru. Keduanya selalu mendukung karirnya dan berpesan agar tidak meninggalkan dunia pendidikan. Bung Luluk berendapat behwa mencapai suatu tujuan, harus memiliki kemauan yang keras dan tekat yang kuat, “Kalau kalian keras terhadap diri kalian, kehidupan pasti lunak. Kalau kalian cengeng, kalian nyerah, yaudah. Tapi kalau kalian tangguh suatu saat kalian akan jadi pribadi yang tangguh juga,” pungkasnya.

 

Keluar dari Zona Aman

Suparmin yang baru pertama kali berada didepan orang banyak, mengaku grogi dan meminta maaf sebelum diawal sesinya. Menyukai tantangan dan misteri, Suparmin  telah bekerja sebagai seorang auditor selama 10 tahun sejak 2007. Ia pernah bergabung di KPMG dan menjadi auditor di PT. Gudang Garam. Ketika ditanya mengenai alasan menjadi atlit, penakhluk Rinjani 100 km ini berkata bahwa hanya kebetulan dan pekerjaan sampingan yang dijalani selama setahun. “Ada dimana kita bekerja sampingan tapi menghasilkan juga bermanfaat buat siapapun. Karena saya hidup ini bagaimana saya bermanfaat untuk siapapun. Jadi kalau saya kerja, saya lari, ngga dibayar ya saya enjoy aja, karena saya melihat manfaatnya bukan bayarannya,” jelas Suparmin.

Perjalanan menjadi Suparmin yang sekarang ini tidaklah mudah. Keluar dari zona aman, lari selama 33 jam pun dilalui, bahkan pernah juga sampai opname di rumah sakit. Ketika banyak orang memilih pergi bersantai dan bersenang-senang, Suparmin memilih untuk berlatih  dan bekerja. Suparmin sanggup membiayai uang sekolahnya dari SMA tanpa meminta uang dari orang tua dengan bekerja.

Menurutnya, dalam menjalani passion, dibutuhkan kerja keras, fokus dan berani keluar dari zona aman dan berani mengambil resiko. “Luangkan waktu! Tinggalkan senang-senang sejenak demi masa depan!” pesannya.

 

Be Yourself

Rico Ceper yang memiliki nama asli Muhammad Rico Safinka membuka pembicaraannya dengan mengucapkan terimakasih karena pertama kalinya berkunjung ke Salatiga. Sebenarnya Rico Ceper ingin kuliah di jurusan komunikasi namun orang tuanya menggiringnya untuk masuk jurusan ekonomi. Menurutnya profesi apapun, pendidikan sangat penting. Dia juga menceritakan bahwa dulu sempat ingin menjadi atlet. Rico pernah mengikuti PON DKI sebagai pelari marathon 10.000m. Ia juga pernah mencoba olahraga badminton dan basket, namun Ia merasa bahwa kedua olahraga tersebut bukan passion-nya.

Gagal didunia olahraga, Rico Ceper banting stir kedunia presenter dengan memulainya sebagai penyiar radio yang dikenalkan oleh Almarhum Gugun Gondrong sejak kelas dua SMA. “Ketika itu saya pikir ngomong-ngomong gitu hanya sekedar modal bawel, tapi nothing banyak banget. Kita harus tahu wawasan lain dan dari situ saya hobi baca,” jelasnya. Rico memulai karir sebagai penyiar radio, sampai menjadi comedian dan presenter sukses. Dengan profesinya ini membuat Rico Ceper bisa melanglang buana. “Kalau orang media, liputan Moto GP ke Australi, final Liga Champion ke Itali, London Fashion Week berangkat ke Inggris, jadi udah kerja, jalan-jalan dan dibayar pula. Jadi, eh kok asik nih, mungkin disitu menemukan sisi lain, yaudah nikmatin aja,” kata pria 42 tahun ini.

Ketika ditanya mengenai pesan bagi mahasiswa, Rico berpesan untuk menjadi diri kita sendiri, jangan menuntut, jangan mengeluh, banggakan orang tua dengan apa yang kita raih dan bersyukur.

Selain talk show, sesi lain dari acara ini adalah pengumuman 10 pemenang selfie competition yang diadakan khusus untuk mahasiswa UKSW melalui instragam dengan batas upload tanggal 21 November 2017. Pemenang berhak mendapatkan sepatu Eagle.

Adanya doorprize sepatu Eagle, membuat peserta antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. “Acaranya rame dan ga bikin ngantuk, apalagi pas Rico Ceper ngisi acaranya bawaannya mau ketawa terus. Kalau tentang dapat sepatu gratis sih aku bersyukur banget, soalnya aku termasuk dari 100 orang yang beruntung bisa dapat sepatu Eagle gratis. Apalagi dapatnya lewat kok bulutangkisnya Bang Luluk, pokoknya seneng banget deh!”, tutur Ferry Endah mahasiswa FEB UKSW sebagai salah satu peserta talk show yang beruntung mendapatkan sepatu Eagle. Acara ini kemudian ditutup dengan pembagian goodie bag kepada 1300 partisipan pertama oleh panitia.

 

Gabriela Amanda Widyastutimahasiswi jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, angkatan 2017, anggota magang KBM Ascarya Journalistic Club periode 2017-2018

Penyunting : Dini Nurul Hudha

N.B: Tulisan ditulis bersama dengan Eva Ariyanti Paramita

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan via Surel

Masukkan alamat surel Anda untuk mendapatkan kabar terbaru dari Ascarya dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

KONTAK ASCARYA

Email: ascarya.feb@student.uksw.edu

Phone: 0858-4868-2470 (Armita)

Address: Jalan Diponegoro No. 52-60 Salatiga