Monday, 26/6/2017 | 10:28 UTC+0
Ascarya Journalistic Club

Mengapa Harus Anak Emas Soekarno? PKI Salah Tumbal!

Post by relatedRelated post

Siapa sangka kota Dawet Ireng, Purworejo, Jawa Tengah, telah melahirkan seseorang dengan perjalanan hidup yang dapat membuat sejarah dengan kehebatan, kecerdasan dan ketangguhannya. Mulai tanyakan pada diri sendiri, “darimanakah saya berasal dan bagaimana perjalanan hidup saya sampai saat ini?” 
Siapakah Beliau? 
Negara tanpa pahlawan sama saja tanpa kebanggaan. “Siapa yang berani menginjak bayang-bayang Bung Karno, harus terlebih dahulu melangkahi tubuhku”, itulah sepenggal kalimat yang diucapkan sosok pemimpin sejati kelahiran 19 Juni 1922, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani. Maka tak salah Kusno yang kemudian berubah nama menjadi Soekarno, memilih Ahmad Yani sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata atau KASAD, pada 28 Juni 1962. Nama jenderal junior tersebut ada pada bagian akhir dalam daftar pengajuan calon pemegang komando pasukan yang diajukan oleh Nasution. Untuk kedua kalinya mari tanyakan pada diri sendiri, “apa saja kebanggaan yang ada dalam diri saya dan bagaimanakah cara menunjukkan kesetiaan dan perlindungan kepada orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya?” 
Bagaimana pendidikannya? 
Pahlawan revolusi yang sekaligus pahlawan nasional Negara Jamrud Khatulistiwa ini memang tidak main-main soal pendidikannya. Hal ini bisa dilihat dari latar belakang pendidikannya, mulai dari HIS (setingkat SD), MULO (setingkat SMP), AMS (setingkat SMU), Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang, Pendidikan Heiho di Magelang, PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor, Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat tahun 1955, dan Special Warfare Course di Inggris tahun 1956. Dalam keterbatasan pendidikan di negara merah putih ini, beliau tetap menempuhnya meskipun sekolah-sekolah formal dan militernya merupakan bentukan dari negeri kincir angin dan negeri matahari terbit kala itu. Masih seringkah anda mengeluh tentang sistem, pengajar, infrastruktur dan sarana prasarana pendidikan saat ini? Bagaimana anda mengatasi keterbatasan yang anda keluhkan sepanjang waktu? 

Apa kontribusinya?
Pria berpostur tubuh tinggi, gagah, telinga lebar, alis naik dan bibir tebal itu telah memperjuangkan banyak hal untuk negara yang dulunya disebut Hindia-Belanda ini. Perwira militer tersebut terang-terangan menentang paham komunis yang dibawa PKI. Di samping itu, beliau berhasil menyita senjata Jepang di Magelang, berhasil menahan serangan Belanda di daerah Pingit, pasukan Banteng Raidersnya yang diberi latihan khusus berhasil menumpas pasukan DI/TII, berhasil dalam pemberontakan PRRI, Operasi Trikora merebut Irian Barat dari Belanda. Setelah itu Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia serta masih banyak kemenangannya dalam mewujudkan keutuhan negara ini. Adakah kontribusi anda untuk negara? Jika ada seberapa besar kontribusi yang telah anda berikan? Bersediakah anda untuk memberikan lebih banyak sumbangan tenaga dan pikiran daripada caci maki kepada pemerintah? 

Mengapa dikenang hingga sekarang? 
Beliau dijuluki “Anak Emas Soekarno”, tentu saja karena prestasi kerjanya yang sangat memuaskan. Beliau akan tetap diingat dalam sejarah bangsa yang telah terbelenggu selama lebih dari tiga abad lamanya. Sang Jenderal menolak tegas permintaan Ketua PKI D.N. Aidit yang meminta buruh dan kaum tani dipersenjatai. Beliau dituduh akan melakukan Kudeta kepada Soekarno. Hubungan antara keduanya yang awalnya sangat erat akhirnya menjadi retak ketika adu domba oleh PKI. Pagi itu, 1 Oktober 1965 Pukul 04.30 WIB, pasukan Cakrabirawa berhasil mengelabuhi Sang Jenderal dengan banyak tanda kehormatan itu dengan alasan untuk menemui Presiden. Namun apa daya beliau justru ditembak secara membabi buta dengan delapan peluru bersarang di tubuhnya yang disaksikan oleh kedua anaknya yang masih kecil. Kemudian jenazahnya diseret dari tempat penembakan menuju Lubang Buaya, Jakarta Timur. Ironisnya, tepat di hari itu merupakan hari ulang tahun istrinya. Sekitar pukul 09.00 WIB datang sebuah kiriman bunga dengan ucapan selamat ulang tahun untuknya yang ternyata diketahui bahwa bunga itu dipesan oleh suaminya yang tertembak mati oleh otak licik PKI. Sebenarnya sang proklamator telah meminta Ahmad Yani untuk menggantikan dirinya menjadi presiden bila kesehatannya tak kunjung membaik. Namun takdir berkehendak lain. Sang jenderal sejati telah gugur di tangan bangsanya sendiri, ditembak, diseret bahkan dimasukkan ke dalam lubang yang kedalamannya beberapa meter hingga namanya harus tertulis dalam nisan abadi hasil kekejaman penganut komunis di negeri ini. Kenapa harus ‘Anak Emas Soekarno’? Mengapa harus Beliau yang difitnah, dibenci, dimusuhi, diadu domba, dan bahkan dibunuh secara sadis oleh mereka? Mengapa pribadi sebaik itu harus jatuh di tangan para perusak ideologi? Apa yang sebenarnya mereka inginkan sampai mengabaikan kemanusiaan? Sang istri pun mencurigai adanya balas dendam Soeharto terhadap suaminya, sehingga disinyalir ialah otak pembunuhannya. Tapi itulah sejarah kita. Masih banyak yang ditutup-tutupi. Yang masih banyak terjadi kesimpangsiuran. Jadi apalah yang bisa kita lakukan. Kita tidak bisa memperbaiki sejarah di masa lalu, tapi kita bisa membuat sejarah yang cemerlang di waktu mendatang dengan perjuangan yang dimulai sekarang. Sekarang nyawa tidak perlu menjadi taruhannya, tetapi perjuangan untuk kemajuan Indonesia jangan sampai berakhir. Selamat berjuang dengan cara baik. Semoga berhasil! “Tapi ibu tetap yakin, bapak sudah tidak ada. Ibu mengambil segumpal darah hangat bapak, diusapkannya dengan dua telapak tangannya ke wajah, leher dan dadanya untuk menjadi sumber kekuatannya” SV-Kelompok 13

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan via Surel

Masukkan alamat surel Anda untuk mendapatkan kabar terbaru dari Ascarya dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

KONTAK ASCARYA

Email: ascarya.feb@student.uksw.edu

Phone: 082393317700 (Indrika)

Address: Jalan Diponegoro No. 52-60 Salatiga