Monday, 3/10/2022 | 3:25 UTC+0
Ascarya Journalistic Club

Antara Angin dan Angan

“2019, Saat mendengar kata ini apa yang terlintas dibenakmu?” tanya seoang gadis. 

Pastilah yang terlintas dibenak kita adalah pandemi COVID-19. Pada tahunini darinya awal mula semua kehidupan didunia mengalami perubahan. Penyakit virus corona atau biasa kita sebut COVID-19 merupakan penyakit menular yangdisebabkan oleh virus SARS-CoV-2 akibat dari virus ini penderita mengalami gejalaringan sedang hingga kemungkinan terparahnya sampai meninggal. 

Macam canda dan tawa mulai memudar perasaan akan kemudian hari antara takut, pasrah, marah, bosan, sedih, dan perasaan perasaan baru mulai muncul dari perasaan yang sebelumnya belum pernah kita rasakan sebelumnya. Perubahan gaya hidup, kebiasaan, perilaku, maupun sifat terjadi mada masa ini. Banyak sekali kehilangan yang dirasakan seorang anak yang kehilangan ibunya, seorang anak yang kehilangan ayahnya, dan seorang anak yang kehilangan keduanya, lalu seorang adik yangkehilangan kakaknya, seorang kakak yang kehilangan adiknya, hingga seorangdiri yang kehilangan sanak saudaranya, bahkan status awalnya seorang anak terpakasamenjadi seorang kepala keluarga yang menjadi hidup sebatang kara. Perpisahan mengantarkan berbagai perubahan semua yang berbagi canda tawa suka maupun duka timbul rasa ketidakpercayaan kemarin masih bersama dan ditampar kenyataan bahwa saat ini hanyalah kenangan bersama. 

“Berbeda denganku, mungkin melewati tahun 2019 aku masih mampu melewati perubahan yang terjadi masih dapat aku lewati dan berdiri dengan tegak tetapi untuk tahun 2021 bisa dikatakan merupakan tahun terpuruk untukku beserta keluargaku”ujar seorang gadis dengan perawakan tidak terlalu tinggi. 

Seorang gadis dengan perawakan tidak terlalu tinggi dengan kulit kulit langsat itu dalam benaknya masih mengingat dengan jelas bagaimana awal perubahan yang terjadi hingga saat ini. Peristiwa yang mengubah kehidupannya hingga kehidupan seluruh masyarakat di dunia semua itu berawal dari tahun 2019. 2019 Tahun dimana

dunia digemparkan dengan peristiwa yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan sebelumnya mungkin pada tahun ini dalam Indonesia sendiri belum mengalami perubahan apapun. Dalam Indonesia sendiri virus ini mulai masuk pada awal tahun 2020 merupakan awal dimana perubahan secara signifikan terjadi. Menurutnya 2020 merupakan tahun dimana semua perubahan terbentuk dan dari sini kita diharuskan untuk beradaptasi dalam menghadapi bencana ini. Bencana yang tidak diperkirakan akan berkepanjangan menurutnya memporak-porakan berbagai aspek dunia dari pendidikan, farmasi, olahraga, IT, transportasi, kuliner, ekonomi, dan pariwisata. Perubahan pola pikir masyarakat sebelumnya tidak siap menjadikannya waspada. 

Dan 1 tahun berlalu bagaimana Indonesia melewati berbagai perubahan karena pandemi COVID-19 dari bagaimana menjauhkan yang dekat dan juga mendekatkan yang jauh. Tahun ini tepatnya tahun 2021 beragam perubahan telah terjadi seperti banyaknya perkerja yang terkena PHK, pekerja yang harus dirumahkan tanpa kepastian yang jelas, siswa-siswi yang harus tetap sekolah dari rumah secara daring, mahasiswa dan mahasiswi bernasib sama seperti para siswa yang harus tetap kuliah meskipun dari rumah dari sini peran kemajuan teknologi sangat penting seluruh masyarakat beradaptasi akan kemajuan IPTEK. Hal ini juga terjadi pada gadis dengan berperawakan tidak terlalu tinggi yang bernama Ara. 

Dinara namanya atau lengkapnya Dinara Rayana Abimana biasa dipanggil dengan cAra. Dinara seorang gadis berusia 18 tahun berperawakan tidak terlalu tinggi, kulit kuning langsat, bermata bulat, alis yang tertata rapi, hidung yang tidak terlalu mancung ataupun pesek, bibir mungil, rambut lurus sebahu dan dengan bentuk tubuh yang ideal merupakan seorang siswa kelas XII yang sedang mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri Ungaran. Ara memiliki sifat manja, periang, jahil, humoris dan rajin. Semua itu berubah sampai suatu peristiwa yang merenggut semangat serta tujuan hidup Ara. Bagaimana terpuruknya Ara, bagaimana semangat hidup mulai menyurut, dan bagaimana Ara merasakan jatuh sampai titik terendahdalam hidupnya. Sebuah peristiwa yang tidak pernah Ara sebelumnya merubahAramenjadi dingin, putus asa, pemalas, dan cuek.

Seperti saat ini Ara sedang duduk bersama dengan keluarganya yang terdiri dari ayah, bunda, dan kakaknya. Mereka sedang bersenda gurau bersama hingga ayah Ara yangbernama Abimana Pramana berbicara. 

“ Ara setelah lulus ingin melanjutkan kuliah kemana?” tanya ayah Pram. “ Ara ingin melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro ayah” jawab Ara. “ Kenapa ingin melanjutkan di UNDIP?” tanya ayah Pram. 

Universitas Diponegoro atau biasa disebut UNDIP merupakan sebuah Universitas Negeri yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. 

“Ara ingin kuliah disana bukan karena ada kak Bagas kan?” goda ayah pada Ara. “AYAHHHH….” keluh manja Ara pada ayahnya. 

“HAHAHAAHAHAHA iya kan? Mengaku saja, ouw ouw kamu ketahuan suka dalamdiam tanpa kepastian” goda ayah Pram lagi pada Ara dengan irama lagu ketahuan- Matta 

“Aduh kok kasihan” lanjut kakak Ara. 

Kak Raya dan Ayah Pram pun bertos ria setelah berhasil menggoda si bontot. Karena Ara yang merupakan anak bungsu yang memilki sifat manja maka dari itukeluarganya menyebutnya si bontot. 

Kakak Ara bernama Dara Rayana Abimana atau panggilan akrabnya Raya, kakakAramemiliki nama dan fisik yang mirip dengan Ara yang membedakan hanya dari segi tinggi badan dan juga kakak Ara memiliki rambut panjang bergelombang jikadibandingkan Ara yang memilki model rambut lurus sebahu dari segi perbedaanitulah untuk bisa membedakan antara Raya dan Ara. 

Ara pun hanya bisa mencebikkan bibir nya dan mengadu pada bundanya. 

“Bunda ayah dan kakak menggoda Ara terus, tegur ayah dan kakak bunda tegur…tegur…tegur” seru Ara pada bundanya. 

“ Hahahahahahah ngadu dia ayah” kata Raya. 

“ Hahahahahaha aduhhhh cup cup sini anak ayah, sini sini bontotnya ayah” kata ayahPram kembali menggoda Ara.

“Bunda….” adu Ara pada bundanya lagi. 

“Hahahahahahaha” Bunda tertawa mendengar aduan Ara. 

“Bunda.… kok ikut ikutan” semakin maju saja bibir Ara. 

“Iya engga kok sayang, ayah kakak udah itu lihat bibir adik udah kaya ikan arwanapak RT” tegur bunda pada Ayah Pram dan kak Raya disertai dengan kekehan. “Okayy okayy kita kembali ke topik sebelumnya” kata ayah. 

“Jadi Ara kenapa kamu mau kuliah di UNDIP?”. tanya Ayah pada Ara. 

Ara menghela napas sejenak, sebelum menjawab pertanyaan dari ayahnya untukmengungkapkan alasan yang tepat. 

“Jadi…. alasan Ara adalah…. bersambung nantikan minggu depan kelanjutannya”goda Ara pada keluarganya. 

“HUUUUUU” keluarga membuat sorakan pada Ara. 

“HAHAHAHAHA… okayy okayy jadi” kata Ara mulai serius. 

“Ara tidak bisa meninggalkan ayah dan bunda, karena UNDIP masih bisa dijangkauuntuk pulang pergi dan Ara ingin seperti ayah yang merupakan lulusan dari sanamakanya Ara ingin melanjutkan di UNDIP” jelas Ara pada pertanyaan ayahnya. 

“Hem…okayy okayy ayah pasti dukung keinginan anak bontot ayah” kata ayah Pram. “Lalu untuk prodi yang Ara inginkan apa?” tanya Ayah Pram. “Untuk sekarang mungkin Ara ingin Manajemen aya” jawab Ara. “Ayah pasti dukung impian Ara, Semangat belajarnya ya anak bontot ayah” kata ayahPram menyemangati Ara sambil mengusap kepala Ara. 

“Terimakasih ayah, Ara pasti akan rajin belajar dan membuat ayah bangga”. kata Ara. “Semangat anak bontot” kata kak Raya dan bunda. 

Dengan bibir yang dimanyunkan Ara pun menjawab. Walaupun sedikit sebal karenadigoda bunda dan kak Raya, Ara tetap menjawabnya. 

“Terimakasih sayang bunda sayang kakak” jawab Ara. 

“Nah sekarang, ayo kembali ke kamar masing-masing dan tidur untuk menyambut hari esok dengan semangat dan harapan baru berkobar seperti besok adalah hari akhir”canda ayah Pram kepada keluarganya. 

“AYAHHHH…” jawab ketiganya dengan kompak.

“Heheheehe udah udah sekarang bubar bubar” usir ayah untuk membubarkankeluarganya agar segera masuk ke kamar masing masing. 

Dan akhirnya pun keluarga Ayah Pram mengakhiri pembicaraan dan kembali kekamar masing-masing untuk menuju mimpi indah dan menyambut hari esok dengansemangat serta harapan baru seperti kata Ayah Pram sebelumnya. Dan keluargacemara Ayah Abimana Pramana pun terlelap. 

Pagi hari pun tiba seperti pada rutinitas biasanya yang selama 2021 ini terjadi keluarga bapak Abimana Pramana saat ini sedang bersiap untuk memulai aktivitas masing masing. Ayah Pram yang sedang menikmati sarapannya yang sudah disiapkanoleh Bunda Ira sebelum berangkat bekerja ke kantor, Bunda Ira yang sedang hasil masakapan untuk sarapan keluarganya dengan sudah rapi memakai seragamkantornya, Kak Raya yang sedang memakan sarapannya, dan Ara yang juga memakansarapannya. Setelah selesai memakan sarapannya keluarga Ayah Prampunmelanjutkan aktivitas masing masing Ayah Pram yang berangkat bekerja denganmengantarkan Bunda Ira menuju kantor, Kak Raya yang kembali ke kamar untukmempersiapkan skipsi umtuk sidangnya, dan Ara yang kembali ke kamar untuk mulai sekolah melalui online. 

“KRETEKK KRETEKK” 

Terdengar bunyi tulang punggung yang diluruskan oleh pemiliknya di dalamsebuahkamar yang bernuansa minimalis dengan dinding bewarna cream yang didalamnyaberisikan ciri khas remaja seusianya. Ya yang barusan melemaskan otot danmeluruskan tulang punggung dan tulang lainnya dalam tubuh adalah Ara seorangremaja yang baru saja menyelesaikan tugasnya setelah kelas online berlangsung. Menurut Ara setelah beberapa jam duduk didepan laptopnya meluruskan tulangdanmelemaskan otot merupakan hal indah yang dia rasakan, bagaimana tulang tulangituberbunyi terdengar sangat merdu di telinga nya. Setelah meluruskan tulangdanmelemaskan otot Ara pun mekangkahkan kaki keluar dari markasnya, memangAramenyebut kamarnya sebagai markasnya karena tempat itu merupakan tempat teramandaei teriakan teriakan keluarganya yang setelah ia jahili khususnya tempat berlingdung dari seorang gadis yang bernama Dara Raya Abimana. Kakak Ara yangbernama Raya merupakan sasaran utama sebagai korban kejahilannya.

Ara pun beranjak dari markasnya menuju dapur untuk melihat apakah ada makananyang bisa ia makan untuk mengisi perut yang sudah meronta ronta sejak tadi. Saat akan menuju dapur Ara melihat kakaknya Raya sedang sangat serius melihat laptopnya yang saat ini posisinya berada di ruang keluarga. Terlintas ide jahil untukmenjahili kakaknya. Ara pun mendekati kakaknya dengan berjinjit jinjit supayalangkah kaki Ara tidak terdengar oleh kak Raya. 

“Kak” panggil Ara pada kakaknya. 

“Hem” jawab Kak Raya pada Ara tanpa menoleh. 

“Kak” panggil Ara kembali. 

“Hem” jawab Kak Raya kembali masih dengan fokus pada laptop di depannya. “Kak” panggil Ara lagi. 

“Hemm..” jawab Kak Raya lagi dengan fokus yang mulai terbagi. “Kak” panggil Ara lagi. 

“Apa sih” jawab Kak Raya disertai dengan perasaan kesal. 

Ara hanya menyengir dengan melihat kakaknya sekali lagi. 

“Tidak apa apa, cuma mau manggil kok” jawab Ara masih disertai cengiran. “Ganggu aja, sana masuk kandang” jawab Kak Raya dengan balasan mengerjai Ara. “Kakak…. ini juga mau pergi”. jawab Ara dengan sedikit sebal akan perkataankakaknya dan mulai bernajak pergi. 

“Makanya dibersihin itu kamar”. lanjut Kak Raya menambahkan. “Selalu bersih kamarku ya kak, itukan dulu untuk sekarang udah selalu bersih” jawabAra dengan beranjak menuju dapur. 

Ara pun mulai melangkahkan kakinya pergi menuju dapur dan mulai mencari makanan yang bisa ia makan untuk mengisi perut yang sejak tadi sudah meronta-rontasupaya lekas diisi. Setelah berbagai perjuangan yang dilakukan Ara akhirnyamembuahkan hasil dengan menemukan sebungkus mie instan. Ara pun mulai memasak mie instan dan juga menambahkan telur dalam rebusnya. Setelah siapArapun mulai melahapnya mengabiskannya hingga tidak tersisa, kemudian Ara mulai mencuci bekas dari memasak tadi dan mengembalikannya ke tempat semula. Setelahmengisi perutnya yang tadi sempat meronta ronta untuk diberikan asupan, Ara mulai

melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk mulai membaca juga belajar persiapanujian perguraan tinggi yang sudah semakin dekat. 

Setelah sampai di kamar nya Ara mulai fokus untuk membaca, mencoba soal soal yang tahun sebelumnya sudah keluar dan melihat lihat dari youtube ataupun medialainnya. Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 Ara mulai mengistirahatkan tubuhnya sejenak, tidak lama Ara mengistirahatkan tubuhnya Aramendengar suara oarng tua nya dari ruang tamu yang menandakan jika AyahdanBunda Ara sudah pulang kerja. Ara pun beranjak dari kamarnya untuk menyambut Ayah dan Bunda nya. Setelah sampai di depan Ayah Pram dan bunda Ira, Aramengulurkan tangan untuk bersalaman dengan beliau berdua. Ayah dan Bunda Arapun membalas salaman dari Ara dan mulai menggiring Ara untuk masuk ke dalamrumah. Keluarga Pak Pram pun kjembali pada rutinitas biasa mulai membersihkandiri, makan bersama, dan berkumpul di ruang keluarga untuk berbagi kegiatan hari itu. 

Keluarga cemara Pak Pram saat ini sudah berkumpul di ruang keluarga berbagi candadan tawa, cerita suka dan duka. Pembicaran keluarga pun sempat terhenti dikarekanAyah Pram yang tiba tiba merasakan sakit kepala dengan tangan yang menyentuhdada. Kami pun panik apakah sakit yang diderita Ayah kambuh, kami merasakantakut. Bunda berlari menuju kamarnya dan mengambil obat Ayah jika sedang kambuh. Bunda kembali dan membawa obat untuk Ayah, kemudian Bunda meminta Ayahuntuk menegak segelas air yang sebelumnya sudah dibawakan Bunda dan memintaAyah untuk meminum obat tersebut bersamaan dengan air tadi. Setelah beberapa saat Ayah mulai tenang dan gejala tadi sudah mulai mereda. Setelah Ayah sudahmerasakan baik baik saja, Ayah meminta kami untuk melanjutkan pembicraan yangsempat terputus tadi. Tetapi kami pun meminta Ayah untuk mengistirahatkantubuhnya saja. Lalu kami pun memutuskan untuk kembali ke kamar masing masing. 

Bumi pun sudah melakukan rotasi nya, bulan berganti matarahi, gelap berganti terang, dan malam pun berganti siang. Suasana keluarga Ayah Pram pagi itu sedikit berbedadari hari sebelumnya. Kejadian semalam masih teringat dalam benak pikiran Ara danRaya, hal itu ditunjukkan dari ekspresi ke khawatiran di wajah mereka akan keadaaanAyah Pram. Ayah Pram pun memberikan senyuman tulusnya dan berkata.

“Ayah sehat, Ayah baik baik saja” kata Ayah disertai dengan mengelus puncak kepalaAra dan memberikan senyum tulus kepada Raya. 

Ara dan Raya pun menganggukkan kepala mereka bersamaan. Dan Ayah Pramyangmelihatnya pun gemas. Sembari mencubit pipi kedua anaknya Ayah berkata. 

“Anak Ayah sudah besar ya tetap kompak ya apapun keadaannya nanti, hm?” kataAyah Pram pada kedua anaknya. 

“Nah sekarang ayo kita sarapan dan mulai pagi ini dengan harapan juga semangat baru seperti esok adalah hari akhir” kata Ayah Pram dnegan semangat membara dantidak lupa semboyannya. 

“SEMANGATTTT!!!!!” kata mereka semua dengan kompaknya. 

Setelah terjadi percakapan tadi keluarga Ayah Pram pun memulai rutinitas seperti biasa dengan Ayah yang akan bekerja dengan mengantarkan bunda yang juga akanberangkat bekerja, Kak Raya yang seperti biasa sedang mengerjakan persiapan sidangnya dan Ara yang akan melakukan pembelajaran secara daring. Tetapi pada hari sedikit berbeda dengan hari biasanya Ayah Pram yang tidak seceria biasanya dansuasana yang sedikit aneh menurut Ara. Tidak seperti biasanya Ayah Pramyangberbalik dan menghampiri Ara dan Raya. Raya yang sedang duduk di ruang keluargadan Ara yang sudah berada di kamarnya. Ayah Pram menghampiri Ara terlebihdahulu dan mengatakan sesuatu yang membuat Ara sedikit terkejut dan sempat memiliki perasaan aneh walau hanya sesaaat dan buru buru Ara tepis perasaan itu. 

“Ara” panggil Ayah Pram pada Ara. 

“Iya? Ayah belum berangkat?” tanya Ara pada Ayah Pram. 

Ayah Pram mengangguk dan berkat. 

“Ada yang mau Ayah sampaikan” jawab Ayah Pram. 

Ara pun menunggu kalimat apa yang ingin Ayah Pram sampaikan. “Anak bontot ayah kalau punya mimpi harus dikejar ya tapi jangan pakai cara yanggabaik ya, jangan karena satu kesedihan mimpin adek luntur. Ingat pesan Ayah adekkalau punya mimpi kejar ya jangan karena gagal adek jadi gelap mata. Ayah pasti akan dukung mimpi adek selama itu tidak merugikan adek ataupun orang lain. Araharis kuliah apapun keadannya, Hm? Bisa?” nasehat Ayah pada Ara.

“Iya Ayah” jawab Ara dengan sungguh sungguh. 

“Kalo mau mimpi adek tercapai harus apa?” tanya Ayah pada Ara. “Berdoa, berusaha, dan tidak membantah orang tua” jawab Ara pada pertanyaanayahnya. 

“Ara jangan membantah atau meninggikan suara sama Bunda dan Kakak ya? Bisa?”kata Ayah Pram lagi. 

“Iya Ayah nasehat Ayah akan Ara ingat selalu nah sekarang Ayah kerja dan cari uanguntuk Ara biar Ara bisa jajan jajan hehehehe” jawab Ara dengan ceringar khasnya. “Anak Bontot satu ini memang ya, okay Ayah kerja dulu ya” jawab Ayah, “Hati-hati Ayah” jawab Ara. 

“Iya intropeksi diri dan perbaiki diri terus ya Ara, ingat lagi gagal bukan akhir danbelum mencoba apalagi itu bukan hasil akhir” jawab Ayah Pram dengan nasehat yangmenurut Ara sedikit berbeda dengan biasanya, 

Dan Ara pun mengacungkan jempolnya, lalu Ayah Pram pun menuju ruang keluargadimana ada Kak Raya disana. Setelah menghampiri Kak Raya dan berbicara sebentar Ayah Pram pun mulai berangkat menuju kantor bersama dengan Bunda Ira dengankendaraan masing-masing. 

Beberapa jam pun berlalu hingga saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sorematahari sudah bergerak sedikit condong hingga pertanda akan tenggelam. Ara punmenuju ruang keluarga dan menemukan kakaknya disana. Ara pun menghampiri danmengajak untuk berbincang. Saat sedang berbincang tiba tiba ponsel Ara berderingpertanda jika seseorang sedang memanggil. Ara pun melihat nya dan membaca pesanyang dikirim oleh pengirim pesan. Dahi Ara sedikt mengkerut karena yangmengirimkan beberapa pesan merupan mama dari temannya yang juga merupakanteman kantor dari Ayah Ara. Dan betapa terkejutnya Ara pada salah satu kalimat pesan yang dikirimkan oleh Mama teman Ara. Pesan tersebut tertulis. 

“Ayah kamu masuk rumah sakit ra, tolong segera kabari bundamu” tulis pesantersebut. 

Dan betapa terkejutnya Ara melihat pada pesan yang disampaikan tersebut danlangsung saja Ara memberi tahu pada kakak nya isi dari pesan tersebut. KakakArapun langung memberi kabar pada kantor tempat Bunda Ara bekerja. Setelah memberi

kabar pada Bunda Ira, Ara dan kakaknya pun bergegas menuju Rumah Sakit tempat Ayah Pram diraawat. Dan betapa terkejutnya Ara ternyata Ayah Pramsedang dirawat di ruangan ICU. Pikiran pikiran buruk pun menghantui Ara, Ara merasakan takut jugacemas hingga menangis akan keadaan Ayahnya. Bisa Ara lihat bagimana keadaanAyahnya saat ini peralatan peralatan cangkih kedokteran terpasang di tubuh Ayahnyadengan kondisi Ayahnya yang masih tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudianBunda Ara pun datang dengan sedikit berlari mendekati brankar Ayah Pram, terlihat dari raut yang cemas dan lelehan air mata kesedihan dari Bunda Ira. Ara, Bunda, danKakak Ara saat ini hanya bisa berdoa kepada Tuhan supaya Ayah Ara segera sadar dan sehat kembali. Tetapi harapan tinggalah harapan Ayah Prammenghembuskannafas terakhirnya pada pukul 18.07 waktu setempat. Ayah Ara dinyatakan meninggal setelah pengecekan positif corona dan juga penyakit bawaan yang diderita kambuh. Keluarga Ara mengalami kesedihan yang sangat mendalam akan kepergiaan AyahPram sosok bijaksana, pengertian, dan penyayang. 

Dari sinilah awal dunia Ara mulai berubah bagaimana pembawaan Ara yang ceria, manja, periang, jahil, humoris dan rajin berubah menjadi dingin, putus asa, pemalas, dan cuek. Saat ini Ara telah menyelesaikan pendidikan SMA nya menunggupenguman kelulusan dan menunggu ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Ditinggalkan oleh sosok yang sangat ia sayang, penyemangat hidupnya benar benar pribadi Ara. Seperti saat ini sedang terjadi dalam rumah Ara. 

“Dek” panggil Kak Raya pada Ara. 

“.…” Ara hanya menolehkan kepala dalam merespon panggilan kakaknya. “Gimana belajanya?” tanya KaK Raya pada Ara. 

“Gausah dibahas kak, Ara ga akanlanjut kuliah” jawab Ara pada pertanyaan kakaknya. Ara pun meninggalkan kakaknya seorang diri di ruang keluarga yang sebelumnyapenih dengan canda dan tawa saat ini hanya terisi akan sunyi. 

Ara kembali ke kamar nya dan mulai menangis kembali. Ara hanya dapat menenggelamkan wajahnya pada bantal yang sedang di pelukannya. Dan berbicarasendiri.

“Mimpiku saat ini hanya seperti angin dan hanya sebatas angan” kata Ara berbicarapada dirinya sendiri. 

“Seperti angin yang berhembus pergi seperti itu juga angan akan mimpiku berhembus pergi” pikir Ara. 

Sosok penyayang, penyemangat, dan yang akan menanti dalam perwujudan mimpikusudah pergi begitulah pikir Ara. Setelah merenungkan sejenak terlihat ponsel Araberbunyi pertanda ada yang mengirimkan pesan. Tertulis pada pesan tersebut bahwateman Ara mengajak untuk berkumpul bersama dan Ara pun menyetujuinya. Setelahpamit pada kakaknya Ara pun pergi menuju tempat yang telah diepakati sebelumnya. 

Setelah sampai pada lokasi yang telah disepakati Ara pun mengedarkan pandangandan sudah menemukan teman-temannya yang berjumlah 3 orang. Ara pun beranjakmenghampiri dan setelah sampai langsung duduk di seblah Mira salah satu temanAra. Mira pun menoleh ke samping yang berbicara. 

“Datang datang bukannya salam say hay say hello tiba tiba nongol duduk ga bersuaralagi” dengus Mira pada Ara. 

“Ngapa tu muka mendung banget” kata Intan teman Ara lainnya. 

“Bukannya emang mendung terus ya tu muka” kata Dinda teman Ara lainnya. “Kenapa tuh muka?” dengan mengyuh kentang goreng yang sudah tersedia di mejaMira pun bertanya kepada Ara. 

“Udah? Jawabannya Ga papa” jawab Ara pada pertanyaan teman temannya. “Gimana Kak Bagas?” tanya Intan pada Ara dengan sedikit godaan. “Apasih udah ya gausah mulai, terus itu gimana sama Bima?” balas Ara pada Intan. “Ehhhh malah mancing ni anak bontot satu” balas Intan pada Ara. “Udah udah kalian ini kalau engga saling goda ga bisa ya, hiduplah dengan rukunsebagai senasib seperjuangan” lerai Mirna dengan sedikit nasehat, jika menurut Mirna. “Ehhh ni anak satu malah mulai mancing lagi, hajar ra” balas Intan. “Udah udah” lerai Dinda yang paling kalem diantara mereka. Setelah memesan makanan dan minuman pembicaran yang sebelumnya hanya diisi dengan saling menggoda juga bercanda pun mulai serius. Dengan diawali oleh Intan. 

“Gimana kalian akan lanjut mana?” tanya Intan pada teman temannya.

“Aku awalnya mau ke kedinasan aja tapi ga jadi fisik ku tidak mendukung, hehehe”jawab Dinda disertai dengan kekehan di bagian akhir. 

“Aku awalnya mau di Yogyakarta tapi udah nyaman kerja toh kuliah ujung ujungjugabuat kerja” jawab Mirna akan pendapatannya. 

Intan, Mirna dan Dinda pun melihat Ara menunggu jawaban dari Ara. Ara punmenjawab pertanyaan Intan disertai dengan helaan nafas. 

“Mungkin juga aku bakalan mencari kerja, serabut serabut juga ga papa” jawab Ara. “Loh bukannya kamu ambis banget mau ke UNDIP ya? Udah semakin dekat lho”jawab Dinda dengan sedikit dahi yang terlipat. 

“Pemikiranku sama seperti Mirna dan juga kuliah harus keluar biaya banyaksedangkan kerja akan menghasilkan uang. Aku mikirin Bunda ku sekarang kerjasendiri” jawab Ara mengutarakan pendapatnya. 

“Kondisi kita beda Ara, Yahhh tapi kan kamu inget pesan Ayahmu? Kamu harus kuliah apapun keadanya dan Bunda pun sanggup juga ingin kamu kuliah” sanggahMirna akan pendapat Ara. 

Pendapat Mirna membuat sedikit berpikir apakah iya? Haruskah mulai belajar kembali? Pertanyaan pertanyaan itu tergiang di kepala Ara. Mira pun menyadarkandirinya dan bertanya pada Intan. 

“Kamu bagaimana tan?” tanya Ara pada Intan. 

“Mungkin bakalan swasta aja, deket dari rumah Akreditasi nya pun bagus” jawabIntan. 

Dan pembicaran pembicaraan lainnya pun mengalir hingga tidak terasa senja sudahmenampakkan rupanya pertanda matahari akan tenggelam dan hari mulai malam. Memang jika bersama temannya dia seakan baik baik saja dan berkumpul bersamatemannya membuat dirinya sedikit lebih ceria. Ara beserta teman temannya punberpisah dan pulang menuju rumah masing masing. 

Ara pun sudah tiba di rumah yang dulu penuh kecerian sebelum peristiwa kehilanganitu menyebabkan dirinya seakan menjauh dari keluarganya tanpa menyadari jika

keluarganya pun merasakan kehilangan sosok suami dan ayah penyayang. Setelahtibadi rumah ada sedikit mendengar pembicaraan yang dilakukan bunda dan kakaknya. Ara pun mencuri dengar pembicaraan mereka. 

“Kak apa yang harus kita lakukan?, Ara…” tanya Bunda Ira pada Kak Raya. “Apakah kita harus diam dan menunggu terus?” tanya Bunda lagi. “Sabar Bunda Ara pasti akan berubah seperti sebelumnya, kita berdoa agar Ara segerasadar” kata Kak Raya dalam menyemangaki Bunda nya. 

“Memangnya Aku kesambet kali ya? Kok segera sadar? Kakak ini” tanya Ara padadirinya sendiri dalam hati dan menampilkan raut polosnya. Kemudian Ara kembali mencuri dengar. 

“Ara pasti akan kembali seperti sediakala Bunda percayalah” seru Kak Raya optimis menyemangati Bunda. 

“Tapi kapan kak? Ini sudah 2 bulan Ara seperti bukan Ara”. seru Bunda dengansedikit nada tinggi disertai nada frustsi. 

“Kita optimis dan berdoa semoga Ara kembali seperti semula” kata Kak Raya padaBunda dengan menggenggam tangan Bunda untuk saling menguatkan. 

Ara yang mendengar seruan hati Bunda dan Kakaknya sedikit merasa bersalah dirinyamenganggap sudah terlalu jauh dalam bersikap. Pembicaraan antara Bunda danKakaknya menampar dirinya akan kenyataan yang ada bukan hanya dirinya yang

merasakan sakit tetapi Bunda dan Kakaknya juga merasakan hal sama ditambahdengan bagaimana selama ia bersikap membuat dirinya semakin merasa bersalahseharusnya mereka saling merangkul dan menyemangati tidak bersikap egois. Arapun berjalan mendekat kepada Bunda dan Kakaknya, kemudia setelah tiba di belakang mereka Ara pun mengansurkan tubuhnya untuk memeluk keduakesayangannya yang sempat tidak ia anggap. Ara pun berbicara kepada keduanya. “Ara minta maaf bunda kakak, selama ini Ara salah” 

“Tidak apa apa sayang” ujar Bunda dengan mengeratkan pelukannya pada Ara danKak Raya pun melakukan hal yang sama. 

“Ara janji Ara akan berubah akan, Ara akan lebih memikirkan masa depan Ara danlebih menyayangi Bunda dan Kakak” ujar Ara dengan perasaan bersalah.

Mereka pun mengangsurkan pelukan dan saling menatap kemudia tiba tiba tertawabersama hal yang sering mereka lakukan. Sejak saat itu Ara mulai berubahmenjadi sosok seperti sedia kala mejadi Ara yang ceria, manja, periang, jahil, humoris danrajin.Kesulitan karena hanya melalui online sangat Ara rasakan sulitnya tanpa tutor atau penjelasan langsung dari guru. Berbagai rintangan telah Ara lewati dari rasabosan, malas, dan putus asa sering sekali Ara rasakan tetapi ia ingat ada bebanharapan keluarga nya yang sedang ia pikul hingga membuatnya kembali semangat untuk mewujudkan harapan tersebut. Dari percakapan antara Bunda dan Kakaknyatempo hari membuat Ara sadar seharusnya ia menjadi pribadi yang lebih dewasa danmandiri. Hari ujian telah Ara lewati dan saat ini hanya tinggal menunggupengumuman lolos. 

Banyak kesulitan yang Ara lalui pada proses bagaimana ia belajar seperti penjelasandari guru yang menurutnya kurang siswa dituntut seperti belajar sendiri tanpa adanyapengenalan, bagaimana sulitnya berkumpul untuk bekerja kelompok dalampembahasan soal soal karena adanya beberapa peraturatan pemerintahan yangmengharuskan menghindari kerumunan. Tetapi tidak semata mata Ara mengambil sisi negatif saja dari pengalaman pembelajaran daring ada juga hal positif yang dapat Araambil seperti fasilitas fasilitas lain yang semakin canggih, Lebih mengerti akanIPTEK semakin maju dari hari ke hari, jangkauan pertemanan dalamdunia virtual membuat jaringan semakin luas, banyaknya ilmu ilmu baru dari dunia maya yangsemakin banyak, dan kemudah dalam akses apapun. 

Hingga hari ini tiba dimana hari pengumuman kelulusan siswa yang diterima di Perguruan Tinggi yang mereka inginkan. Tiba dimana saat yang sangat mendebarkanperasaan takut,cemas, begitu besar harapan orang tua akan seleksi ini. Dan tibasaatnya hitungan mundur perlanan bergerak semakin dekat, dekat, dekat dantibasaatnya. Ara pun mulai mengakses untuk melihat pengumuman kelulusannya. Layar laptop yang saaat ini sedang Ara tunggu menunjukkan perputaran pertanda menunggusesaat. Dan terpampang data diri disertai dengan kode QR demgamtampilan bagianatas “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN LTMPT 2021 di…Universitas Diponegoro…Manajemen” Betapa senang dan bahagia nya Ara mimpi dan impian serta harapan yang sempat Ara lupakan dengan berbagai rintangan

dampak pembelajaran daring ternyata membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Kabar membahagiakan ini tentu langsung Ara sampaikan pada keluarganya dimanaberbagai suka dan duka, sedih dan senang. 

Mimpi yang sebelumnya sempat Ara lupakan, mimpi yang seperti angin yangberhembus dan mimpi yang sekedar menjadi angan, mimpi yang hanya sekedar angindan angan ternyata dapat ia raih kembali. 

“Apakah Ayah melihatnya?” ujar Ara dalam hati dan melihat bagaimana cerahnyalangit seolah sedang mengucapkan selamt kepada seorang Dinara Rayana Abimana. 

“Titik terendah dalam hidup beberapa orang adalah kehilangan orang tersayang. Sedih, terpuruk memang pasti dirasakan tetapi ingat coba liat kedepan masihadaseseorang yang mengharapkan kebahagian kita dan perlu dibahagiakan. Dunia akanterus berjalan dalam dunia tidak ada yang kekal semua akan mengalami perpisahandan kematian. Jangan selalu terpuruk hingga menyalahkan takdir, ingat kitaadatakdir dan kita perlu juga karena takdir. Percayalah akan ada takdir lain yang lebihindah sudah Tuhan siapkan”.

Tentang penulis 

Bernama lengkap Wanda Ibrahim Al-Habzi yang biasa disapa dengan sebutan Wanda, lahir di Kota Semarang, 24 Juni 2003 dan saat ini berusia 19 tahun. Domisi saaat ini menetap di Kota Ungaran. Pendidikan yang selama ini di tempuh Taman Kanak- kanak Hj. Isriati Moenadi, Sekolah Dasar Sidomulyo 03, Sekolah Menengah Pertama1 Ungaran, Sekolah Menengah Atas 2 Ungaran dan saat ini sedang menempuhpendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana. Penulis menyukai sebuah karanganatau cerita dan karya ini merupakan karya pertama penulis selain dari tugas yangdiberikan guru selama masa sekolahnya.

Karya: Wanda Ibrahim Al-Habzi

Juara Favorit 2 SELOPEN 

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan via Surel

Masukkan alamat surel Anda untuk mendapatkan kabar terbaru dari Ascarya dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

KONTAK ASCARYA

Email: ascarya.feb@student.uksw.edu

Phone: 0858-4868-2470 (Armita)

Address: Jalan Diponegoro No. 52-60 Salatiga